Karakteristik Manhaj/Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah (1)

Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc.

PERTANYAAN

Maraknya klaim sebagian dakwah bahwasanya dakwah mereka adalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah telah membingungkan umat. Untuk itu, mohon jelaskan ciri-ciri khas/karakteristik dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah agar kami bisa membedakan antara dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang benar dengan dakwah yang lain!

JAWABAN

Karakteristik manhaj/dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang membedakannya dengan ahlul bid’ah sangat banyak, dan telah dijelaskan oleh para Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam banyak kitab karya mereka dan tersebar luas di kalangan kaum muslimin. Untuk itu, kami sebutkan sebagian dari karakteristik tersebut, di antaranya:

Pertama , Ahlus Sunnah Wal Jamaah menerima dan mengambil agama dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikit kalian mengambil pelajaran (darinya).” [ Al-A’raf: 3 ]

Allah Jalla Dzikruhu juga berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” [ Al-Hujurat: 1 ]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا : كَتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Kitabullah dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga.” ( Shahih Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Albany jilid 3 hal. 39 no. 2934)

Berkata Imam Az-Zuhry rahimahullah, “Dari Allah (turunnya) Ar-Risalah ‘agama,syariat’, dan kewajiban Rasul (shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam ) adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah At-Taslim ‘menerima, tunduk, berserahkan diri’.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dalam Kitab At-Tauhid secara mu’allaq. Lihat Fathul Bary 13/508)

Kemudian Imam Ath-Thahawy menyatakan, “Tidaklah tsabit ‘kuat’ keislaman seseorang kecuali dengan menerima dan berserah diri (kepada kitab dan sunnah-pent.) dengan sepenuh hati.” ( Syarh Al-‘AqidahAth-Thahawiyah hal.201)

Kedua , Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak membedakan antara Al-Qur`an dan As-Sunnah, karena keduanya berasal dari sisi Allah Azza wa Jalla dan keharusan menerimanya adalah sama.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan tidaklah yang dia (Rasulullah) ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain kecuali wahyu yang diwahyukan padanya . [ An-Najm: 3-4 ]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

“Barangsiapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah . [ An-Nisa`: 80 ]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda,

أَلاََ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya saya telah diberi Al-Qur`an dan yang semisal dengannya . (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/130-131 dan Abu Daud 5/13 no. 4605. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Al Jami’ 2643)

Ketiga , Ahlus Sunnah Wal Jamaah berhujjah dengan hadits-hadits yang shahih, baik yang mutawatir maupun ahad, baik dalam masalah aqidah maupun ahkam, dan tidak ada perbedaan antara keduanya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apa-apa yang Rasul datangkan kepada kalian maka terimalah, dan apa-apa yang beliau larang maka tinggalkanlah.” [ Al-Hasyr: 7 ]

Allah Ta’ala berfirman,

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” [ An-Nisa`: 59 ]

Berkata Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Ihkam hal. 102, “Maka benarlah dengan ini, bahwa umat berijma’ dalam menerima khabar ahad seorang yang terpercaya dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , juga seluruh kaum muslimin menerima khabar ahad seorang yang terpercaya dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam .”

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ash-Shawa’iq Al-Mursalah 2/262, “Maka yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang menafikan ilmu (yakin) dari hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , yang dengan hal tersebut mereka telah mengoyak/merobek ijma’ para shahabat yang dimaklumi secara darurat (pasti) dalam agama, (mengoyak) ijma’ para tabi’in dan ijma’ para imam kaum muslimin. Dan mereka (yaitu orang-orang yang menafikan bahwa hadits ahad memberi faidah ilmu-pent.) dengan hal tersebut telah mencocoki kaum Mu’tazilah, Jahmiyah, Rafidhah dan Khawarij.”

Keempat , Ahlus Sunnah Wal Jamaah memahami, mengambil dan mengamalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih dengan mengikuti jalan As-Salaf Ash-Shalih.

Allah ‘Azza wa Jalla menerangkan kewajiban mengikuti jalan mereka dalam firman-Nya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [ At-Taubah: 100 ]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang yang menyelisihi jalan mereka dengan firman-Nya,

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [ An-Nisa: 115 ]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيْيِنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan kepada sunnah Al-Khulafa` yang mendapat hidayah dan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian, dan berhati-hatilah terhadap perkara yang baru dalam agama, karena sesungguhnya semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.

Berkata Imam Ahmad ( Ushul As-Sunnah hal.14), “Dasar-dasar sunnah (agama) di sisi kami adalah berpegang teguh pada apa yang ada pada shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , mencontoh mereka dan menjauhi bid’ah-bid’ah, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Berkata pula Imam Ash-Shabuni ( ‘Aqidatus Salaf hal. 114), “Dan mereka ( Ahlus Sunnah Wal Jamaah , Ahlul Hadits-pent.) mengikuti para salaf yang shalih dari (kalangan) imam-imam dalam agama dan ulama-ulama kaum muslimin, dan mereka berpegang teguh sesuai dengan apa yang ada pada mereka, memegang teguh agama dengan kokoh dan berada di atas kebenaran yang nyata.”

Kelima , berdasarkan poin di atas, Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa jalan As-Salaf Ash-Shalih adalah aslam ‘lebih selamat’, a’lam ‘lebih berilmu’, dan ahkam ‘lebih berhikmah’, tidak sebagaimana yang disangka oleh ahlul kalam dan semisalnya bahwa jalan As-Salaf Ash- Shalih hanya aslam sedangkan jalan Khalaf ‘orang-orang belakangan’ a’lam dan ahkam.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Dan sungguh mereka telah membuat kedustaan terhadap jalan Salaf dan mereka telah sesat dengan membenarkan jalan Khalaf. Maka mereka pun mengumpulkan antara kebodohan tentang jalannya Salaf dengan berdusta atas mereka dan kebodohan dan kesesatan dengan membenarkan jalannya Khalaf. (Lihat Fatawa Al-Hamawiyah Al-Kubra hal. 31-32, cet. Maktabatu Harra`)

Keenam , Ahlus Sunnah Wal Jamaah memulai dakwah mereka dengan hal terpenting kemudian hal yang penting setelah hal terpenting tersebut, karena mereka mendahulukan apa yang didahulukan oleh Allah dan rasul-Nya dan mengakhirkan apa yang diakhirkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka mengingat.” [ Al-Qashash: 43 ]

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, dalam kaset yang berjudul Al-Qawa’id Fi Al-Minhaj , menukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa ayat ini menunjukkan sesungguhnya ahkam ‘ hukum-hukum’ itu turun setelah tetapnya syariat, ketika Allah telah membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Kemudian, setelah dakwah Nabi Musa alaihis salam kokoh, barulah Allah menurunkan kepadanya Al-Kitab, yaitu Taurat.

Juga dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma , Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda,

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Kami memulai dengan apa yang Allah memulai dengannya.” (diriwayatkan oleh Muslim)

Ketujuh , prioritas utama dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah dakwah kepada tauhid, karena tauhid merupakan misi dakwah para nabi dan rasul di muka bumi ini. Mereka memulai dakwahnya dengan tauhid dan mengakhiri dakwahnya dengan tauhid.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.’.” [ An-Nahl: 36 ]

Allah Jalla Dzikruhu juga berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’.” [ Al-Anbiya`: 25 ]

Allah Jalla Sya`nuhu menyatakan pula,

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’.” [ Az-Zumar: 65 ]

Lalu, Allah Rabbul ‘Izzah berfirman,

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah sesembahanmu dan sesembahan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) sesembahan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’.” [ Al-Baqarah: 133 ]

Selain itu, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ تَعَالَى.

“Tatkala Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berkata kepadanya, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari (kalangan) Ahli Kitab, maka hendaknya yang engkau dakwahkan di awal kali kepada mereka adalah untuk mentauhidkan Allah Ta’ala.’.” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)

Kemudian, di akhir hayat, dalam keadaan sakit, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam juga memperingatkan umatnya dari kesyirikan sebagaimana sabda beliau,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَىَ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah telah melaknat orang Yahudi dan Nashara. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)

Kedelapan , dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah dakwah sumuliyah ‘ universal’, mencakup seluruh bagian agama tanpa terkecuali. Mereka mengagungkan dan memuliakan seluruh perkara agama karena sifat syariat itu cocok untuk segala zaman, setiap umat, dan seluruh keadaan.

Allah Jalla wa Ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.” [ Al-Baqarah: 208 ]

Berkata Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan rasul-Nya, untuk mengambil seluruh bagian-bagian Islam dan syariatnya, mengerjakan semua perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan apa yang mereka mampu.”

Allah JallaTsana`uhu juga berfirman,

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar- syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [ Al-Hajj: 32 ]

Allah Azzat Azhamatuhu berfirman pula,

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah yang terbaik baginya di sisi Rabbnya.” [ Al-Hajj: 30 ]

Bahkan perkara-perkara yang kelihatannya sepele pun diterangkan dalam agama ini, sehingga membuat orang-orang musyrikin dan ahlul kitab iri hati dan dengki, sebagaimana dalam hadits Salman Al-Farisy bahwa beliau berkata,

قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُوْنَ هَلْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ, قَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ.

“Kaum musyrikin berkata kepada kami, Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) tata cara buang air?’ Maka dia menjawab, Benar, sungguh beliau telah melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kencing, (melarang) kami ber- istinja` dengan tangan kanan, (melarang) kami beristinja` kurang dari tiga batu atau kami beristinja` dengan kotoran atau tulang.’.” (diriwayatkan oleh Muslim)

Kesembilan , Ahlus Sunnah Wal Jamaah terus-menerus menampakkan dan membela kebenaran sampai hari kiamat dan tidak takut cercaan orang yang mencela mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” [ Al-Hijr: 94 ]

Allah JallaTsana`uhu juga berfirman,

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur`an, (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” [ Al-An’am: 55 ]

Allah Jalla Sya`nuhu telah mengambil janji kepada manusia supaya tidak menyembunyikan kebenaran sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.’.” [ Ali ‘Imran: 187 ]

Kemudian, Allah Jalla Sya`nuhu menyatakan ancaman untuk mereka yang menyembunyikan kebenaran sebagaimana dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” [ Al-Baqarah: 174 ]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda dalam hadits yang mutawatir riwayat Bukhary, Muslim, dan lain-lain,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok manusia dari umatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan orang-orang yang mencerca dan menyelisihi mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

Juga dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit riwayat Bukhary-Muslim, beliau dibaiat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam atas beberapa perkara, di antaranya,

وَعَلَى أَنْ نَقُوْلَ الْحَقَّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Dan agar kami mengucapkan kebenaran di manapun kami berada. Kami tidak boleh takut di (jalan) Allah terhadap cercaan orang yang mencerca.”

Lalu, dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam memerintahkannya dengan tujuh perkara, di antaranya,

وَأَنْ أَقُوْلَ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Dan hendaknya aku mengucapkan kebenaran walaupun itu pahit.” (diriwayatkan oleh Ahmad 5/159,173 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Al-Muhaddits Al-‘Allamah Al-Albany rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 2166 dan Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy rahimahullah dalam Ash-Shahih Al-Musnad )

Kesepuluh , Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetap berada di atas al-haq dan tidak ragu, bimbang, goncang, atau mengalami kontradiksi sebagaimana kebiasaan pengekor hawa nafsu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan merasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” [ Al-Isra`: 74-75 ]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah,

إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِيْ يَأْتِيْ هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

“Sesungguhnya, dari sejelek-jelek manusia adalah yang mempunyai dua muka, yang datang kepada mereka (suatu kaum) dengan satu wajah dan (datang) kepada mereka (kaum yang lain) dengan satu wajah (yang lain).” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)

Mereka selalu ingat dan memperhatikan nasihat Hudzaifah bin Yaman kepada Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma,

اعْلَمْ أَنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فَإِنَّ دِيْنَ اللهِ وَاحِدٌ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah kamu mengetahui apa yang dahulu kamu ingkari, dan kamu mengingkari apa yang dahulu kamu ketahui, dan berhati-hatilah terhadap (sikap) berubah-ubah dalam agama, karena sesungguhnya agama Allah itu satu.” (Diriwayatkan oleh Ma’mar bin Rasyid dalam Jami’ -nya sebagaimana di bagian akhir Mushannaf ‘Abdurrazzaq 11/249, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf -nya 7/140, Al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnad -nya no. 470 ( Zawa`id Al-Haitsamy ), Al-Baihaqy 10/42, dan Al-Lalika`iy dalam Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1/90)

Kesebelas , Ahlus Sunnah Wal Jamaah sepakat pada pokok-pokok aqidah. Tidak ada perbedaan dan perselisihan di antara mereka walaupun mereka berbeda masa.

Berkata Syaikhul Islam Abul Muzhaffar Manshur bin Muhammad As-Sam’any rahimahullah, “Dan perkara yang paling jelas, yang menunjukan bahwasanya ahlul hadits adalah ahlul haq, yaitu sesungguhnya jika kamu menelaah atau memperhatikan seluruh kitab-kitab yang mereka tulis, dahulu maupun sekarang, walaupun negeri mereka berbeda-beda dan jaraknya berjauhan dan tinggal di negeri-negeri yang berbeda, kamu mendapati mereka, dalam menjelaskan aqidah, (berada) di atas satu cara dan jalan yang sama. Mereka berjalan di atas jalan tersebut dan tidak berpaling darinya, dan tidak seorang pun di antara mereka yang menyelisihi ucapan mereka pada yang demikian itu. Penukilan mereka satu. Kamu tidak mendapati perbedaan dan perpecahan sedikit pun pada mereka, bahkan kalau kamu mengumpulkan seluruh perkataan yang keluar dari lisan-lisan mereka dan nukilan-nukilan mereka dari pendahulunya, kamu mendapatkan seakan-akan hal di atas berasal dari satu hati dan satu lisan. Maka apakah setelah kebenaran ini ada dalil yang lebih jelas darinya?

Allah berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [ An-Nisa`: 82 ]

Juga firman Allah,

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuh musuhan (pada masa Jahiliyah), maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” [ Ali ‘Imran: 103 ]

Adapun jika kamu melihat pada ahlul ahwa` wal bida’, maka kamu melihat mereka bercerai-berai, berselisih dalam kelompok-kelompok dan partai-partai. Hampir-hampir kamu tidak mendapati dua (kelompok) di antara mereka (berada) di atas satu jalan dalam keyakinannya, membid’ahkan antara satu dengan yang lain, bahkan sampai mengkafirkan. Anak mengkafirkan bapaknya, seseorang mengkafirkan saudaranya, dan tetangga mengkafirkan tetangganya. Kamu mendapati mereka paling menonjol dalam perselisihan, kebencian dan perbedaan. Mereka menghabiskan umurnya, sementara kalimat mereka tidak pernah sepakat, sebagaimana firman Allah,

“Mereka tiada akan memerangi kalian dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu menganggap mereka itu bersatu padahal hati-hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” [ Al-Hasyr: 14 ].”

Lalu beliau memberi beberapa contoh, kemudian berkata, “Dan apakah di atas kebatilan ada dalil yang lebih jelas dari perkara ini? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [ Al-An’am: 159 ].”

(Lihat Al-Intishar Li Ahlil Hadits dengan perantaraan Shaunul Mantiq hal. 165-170, Al-Hujjah Fi Bayan Al-Mahajjah 2/222-230, dan Mukhtashar Ash-Shawa’iq hal. 496-498)

Kedua belas , di antara karakteristik yang paling jelas membedakan antara Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan ahlul bid’ah wal furqah adalah hakikat nama dan penyandaran. Ahlus Sunnah Wal Jamaah pada setiap penamaannya: Salafiyun, Ath- Thaifah Al-Manshurah , Al-Firqah An-Najiyah, dan Ahlul Hadits, semuanya adalah sandaran kepada sunnah dan jamaah yang hanya menggambarkan Islam yang hakiki. Adapun ahlul bid’ah wal furqah, penyandarkan diri mereka kadang kepada seseorang dari ahlul bid’ah atau pimpinan kesesatan seperti Jahmiyah, Kullabiyah, Maturidiyah, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Sururiyah, dan Quthbiyah, kadang kepada pokok kesesatan mereka seperti Qadariyah, Jabariyah, dan Murji’ah, dan kadang kepada bentuk dan sifat kesesatan mereka seperti Rafidhah, Shufiyah, Falasifah, Bathiniyah, Mu’tazilah, dan Musyabbihah.

Berkata Al-Maqdisy, “Dan semua yang memberi nama selain Islam dan sunnah adalah ahlul bid’ah seperti Rafidhah (Syi’ah), Jahmiyah, Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan yang seperti mereka. Ini adalah kelompok-kelompok sesat dan kelompok-kelompok bid’ah. Semoga Allah melindungi kita darinya.” (Lihat Lum’ah Al-I’tiqad hal. 124)

Secara umum, penamaan Ahlus Sunnah Wal Jamaah berbeda dengan penamaan ahlul bid’ah wal furqah dari beberapa sisi:

  1. Penamaan-penamaan Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah penisbahan kepada generasi awal umat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam . Penamaan tersebut akan mencakup seluruh umat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut, baik dalam mengambil ilmu, memahamkan, maupun berdakwah.
  2. Kandungan dari penamaan-penamaan tersebut hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni, yaitu Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.
  3. Penamaan-penamaan tersebut adalah penamaan syariat yang mempunyai asal dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam .
  4. Penamaan-penamaan tersebut hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, serta sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.
  5. Ikatan wala’ ‘loyalitas’ dan bara’ ‘kebencian, permusuhan’ bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan tersebut hanyalah di atas Islam (Al-Qur`an dan Sunnah), bukan karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi, dan lain-lain.
  6. Tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan tersebut kecuali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam . Berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah. Fanatismenya untuk golongan, kelompok, atau pimpinan.
  7. Penamaan-penamaan tersebut sama sekali tidak akan menjerumuskan seseorang ke dalam suatu bid’ah, maksiat, maupun fanatisme kepada seseorang, kelompok, dan lain-lain.

Lihat Risalah Ilmiah An-Nashihah vol. 02 rubrik Manhaj.

Ketiga belas , Ahlus Sunnah Wal Jamaah menasihati kaum muslimin di manapun mereka berada, khususnya di negeri-negeri kaum muslimin, agar mencintai ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah , ber-wala’ kepadanya, memuliakannya dan menyebutnya dengan kebaikan, tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, menaatinya, dan merujuk kepada mereka khususnya dalam perkara-perkara besar dan nawazil, yang berkaitan dengan maslahat umat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan Ulil Amri di antara kalian.” [ An-Nisa`: 59 ]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

“Maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tiada mengetahui.” [ Al-Anbiya`: 7 ]

Allah memerintahkan pula dalam firman-Nya,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita berkaitan dengan keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut syaithan, kecuali sebahagian kecil saja (di antara kalian).” [ An-Nisa`: 83 ]

Ulamalah yang mengetahui yang haq serta menetapkan dan menghukumi dengan haq, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [ Saba `: 6 ]

Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Darda,

إِنَّ الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يَوْرِثْ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang sempurna.” (diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud no. 3096, Shahih At-Tirmidzy 2/59, dan Shahih Ibnu Majah no. 223)

Berkata Ash-Shabuny ( Aqidatus Salaf hal.121), “Salah satu karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah kecintaan mereka kepada imam-imam sunnah, ulama-ulamanya, penolong-penolongnya, dan wali-walinya.”

Berkata Ath-Thahawy rahimahullah, “Dan ulama salaf, dari yang terdahulu dan sesudahnya, dari kalangan tabi’in (yang mereka itu adalah) ahli kebaikan dan atsar, ahli fiqih dan nazhar, tidaklah disebut kecuali dengan kebaikan, dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka ia tidak berada di atas jalan (Islam dan sunnah-pent.).” (dari Syarh Al- Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 740)

Siapakah ulama sunnah itu?

Berkata Imam Ibnu ‘ Abdil Barr, “Telah sepakat ahli fiqih dan atsar dari seluruh negeri bahwasanya ahlul kalam adalah ahlul bida’ dan penyimpangan, dan tidak dianggap ke dalam kelompok ulama menurut mereka di seluruh negeri. Sesungguhnya ulama itu adalah ahlul atsar, dan (kita) mengambil fiqih darinya, dan mereka bertingkat-tingkat di dalamnya sesuai dengan kemahirannya, keahliannya, dan pemahamannya.” (Lihat Jami Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi 2/95-96).

Berkata Imam Al-Barbahary ( Syarhus Sunnah hal. 102 no. 103), “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu-, sesungguhnya ilmu itu bukanlah karena banyaknya riwayat dan kitab. Sesungguhnya Alim (ulama) itu adalah siapa yang mengikuti ilmu dan sunnah walaupun sedikit ilmu dan kitabnya, dan siapa yang menyelisihi kitab dan sunnah maka dia adalah ahlul bid’ah walaupun banyak ilmu dan kitabnya. ”

Salah satu ciri khas ahlul bid’ah adalah membenci ahlul hadits.

Berkata Ahmad bin Sinan Al-Qaththan, “Tidak ada seorang pun mubtadi’ (penganut bid’ah) di dunia kecuali dia pasti membenci ahlul hadits. Dan apabila seseorang berbuat bid’ah, maka akan dicabut manisnya hadits dari hatinya.” (Lihat Aqidah Ashhabil Hadits hal. 116, Shaunul Manthiq hal. 41, dan Tadzkiratul Huffazh 2/521)

Keempat belas , Ahlus Sunnah Wal Jamaah menyeru kaum muslimin untuk saling mencintai, merahmati dan menjalin ukhuwah islamiyah di antara mereka.

Seluruh hal tersebut sebagai realisasi dari firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” [ Maryam: 96 ]

Juga firman Allah Jallat ‘Azhamatuhu,

“Dan orang-orang, yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa, ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’.” [ Al-Hasyr: 10 ]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara.” [ Al-Hujurat: 10 ]

Kondisi tersebut berbeda dengan kondisi umat-umat kafir dan kelompok-kelompok yang sesat, yang Allah telah menetapkan kebencian dan permusuhan di antara mereka sehingga hati mereka bercerai-berai walaupun mereka berusaha menampakkan dan meneriakkan slogan persatuan dan kasih sayang, sebagaimana dalam firman Allah Al-‘Alim bidzatish Shadur,

“Kamu mengira mereka itu bersatu padahal hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” [ Al-Hasyr: 14 ]

Kelima belas , termasuk karakteristik Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menonjol adalah kesungguhan dan kontinuitas mereka dalam menuntut ilmu syariat (Al-Qur`an dan Sunnah). Hal tersebut karena banyaknya dalil dari Al-Qur`an dan Sunnah yang menunjukkan tentang keutamaan dan anjuran untuk menuntut ilmu, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [ Al-Mujadilah: 11 ]

Selain itu, dakwah di jalan Allah harus disertai dengan ilmu, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Katakanlah, Inilah jalan (agama)ku. Saya dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan saya tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’.” [ Yusuf: 108 ]

Sesungguhnya dakwah di jalan Allah adalah kewajiban, maka seorang da’i wajib untuk berilmu tentang apa yang dia dakwahkan.

Berkata Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, “Orang jahil tidak pantas untuk menjadi da’i.” (Lihat muqaddimah beliau terhadap kitab Manhajul Anbiya` fid Da’wah hal. 20 karya Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah)

Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lain, dari Anas bin Malik. Dihasankan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil rahimahumallah)

Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam juga bersabda,

يَحْمِلُ هَذَا الدِّيْنَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الُمْبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Agama ini akan diemban pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka, (yang mereka itu) akan menolak setiap penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, kerusakan orang-orang yang batil, dan penakwilan orang-orang yang bodoh.” (Dishahihkan oleh Imam Ahmad sebagaimana dalam Syaraf Ashhabil Hadits hal. 29 karya Al-Khatib Al-Baghdady dan dihasankan oleh Salim Al-Hilaly dalam Basha`ir Dzawi Asy-Syaraf hal. 111)

Berkata Imam Ibnul Qayyim, “Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam memberitakan bahwasanya ilmu yang dibawanya akan dipikul oleh orang-orang yang adil dari umatnya, dari setiap generasi, supaya tidak lenyap dan hilang.” (lihat Miftah Dar As-Sa’adah 1/163)

Berkata Al-Isma’ily ( I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama ah hal. 54), “Mereka ( Ahlus Sunnah Wal Jamaah ) melihat (betapa wajibnya) mempelajari ilmu (syar’i) dan mencarinya (menuntutnya) dari tempatnya, dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur`an dan ilmu-ilmu tafsir, mendengarkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam , menghafalkannya dan mempelajarinya (memahaminya), dan menuntut (mempelajari) atsar-atsar shahabat.”

Berkata Imam Al-Barbahary ( Syarhus Sunnah hal. 67 no. 8), “Maka lihatlah -semoga Allah memberikan rahmat kepadamu-, semua ucapan yang kamu dengar dari orang-orang, khususnya pada zamanmu, maka janganlah tergesa-gesa dan jangan masuk padanya (membenarkannya) sedikit pun sebelum kamu bertanya dan melihat apakah para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam atau seseorang dari ulama telah berbicara tentangnya (apa yang diucapkannya). Jika kamu mendapatkan suatu atsar padanya (yaitu orang yang berbicara dan berfatwa dari shahabat), berpegang teguhlah dengannya, jangan kamu melampauinya sedikit pun, dan jangan kamu memilih selainnya sedikit pun yang menyebabkan kamu masuk (ke dalam) neraka.”

Sumber: http://an-nashihah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s